POWER RANGER <Change>
Banyak sekali persepsi yang beredar di kalangan masyarakat awam, mengenai sejenis makhluk yang menutupi tubuhnya dengan kain dari pangkal hingga ujung tubuhnya. Makhluk ini biasa di panggil JILBABER.
Ok… sungguh menarik memang membahas hal yang satu ini, yang mana makhluk yang di berikan julukan jilbaber tersebut adalah seorang wanita yang menutupi tubuhnya sesuai dengan syari’at islam.
Islam hakikinya menjaga manusia agar tidak terjebak dalam kehidupan dunia yang sementara. Dunia yang di penuhi oleh banyak godaan, nafsu, yang semuanya bersifat sementara. Dunia yang isinya di penuhi oleh manusia-manusia yang terus berbuat kerusakan, kejahatan, kedzoliman, baik itu kepada alam, binatang, tumbuhan, bahkan sesamanya (manusia).
Untuk menjadi Menjadi muslim yang baik memang tidaklah mudah. Banyak sekali cobaan dan ujian yang menghadang, baik itu berupa gunjingan, materi dan lain-lain.
Nah,,, kita kembali ke makhluk yang di beri julukan “Jilbaber” tadi, Yang menjadi topic bahasan kita. Masyarakat Indonesia yang mayoritas Islam merasa aneh melihat orang mentupi tubuhnya (auratnya). Melakukan sesuatu kebaikan tidak bernilai apa-apa bagi mereka. Namun jika jilbaber melakukan suatu kesalahan, na’udzubillah himindzalik, mereka sibuk mempergunjingkannya. Kita semua memahami Jilababer itu ibarat kain putih yang apabila terkena setitik noda, maka noda itu akan kelihatan.
Ada pula diantara kita yang suka mengkambing hitamkan Jilbaber. Ex : “Eh si Fulan, kok kayak gitu,,,?? Biasanya kan jilbaber kudu lembut, kalem, Kalau kayak gitu maahhh… gak usah pake Jilbab aja sekalian….”.
waaahhh… emang dia fikir orang yang pake Jilbab mesti ngomong lembut, kalem, yang Cuma bisa manggut-manggut. HUH.. sorry cuuuyyyy,,,, Jilbaber mah, gak kayak gitu semua, itu semua tergantung pada pribadi masing-masing. Jilbaber banyak yang aktif, suka ngomong, ceria misalnya di Organisasi, kampus, kantor, dll. Dan biasanya Jilbaber yang ada disana bukan jilbaber yang suka manggut-manggut aja dan kebanyakan dari mereka berprestasi baik di bidang akademis maupun non akademis. Hmmm….
Jjilbaber bukan lah POWER RANGER yang bisa langsung berubah. Kita manusia butuh proses untuk menjadi sesuatu. Kita ibarat kupu-kupu yang mempunyai tahapan-tahapan untuk berubah. Berubah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jilbaber di tuntun sempurna, tidak boleh melakukan kesalahan sekecil apapun, Jilbaber bukan lah dewa, tapi merupakan makhluk allah yang terus berusaha memperbaiki dirinya untuk sampai pada titik yang di Ridhai oleh allah swt.
“kemasan kue selalu dibuat tampak menarik..agar banyak yg membeli padahal belum tentu rasa nya enak. Apakah manusia bisa disamakan dengan kue,? selalu tampil dengan cover yg baik agar org berpersepsi baik pula, padahal asli nya who know,,? apa ada nya lebih baik, karna kita tau di dalam diri ini masih ad kekurangan, agar segala kekurangan itu mampu jadi cambuk untuk selalu memperbaiki diri.” Ini salah satu contoh statement untuk para Jilbaber.
Statement ini benar, tetapi ketika kita bisa untuk menjadi lebih baik, kenapa harus memilih jadi apa ada nya? Intiny apapun yang kita lakukan jangan hanya ingin di pandang manusia saja, tapi yang terutama adalah pandangan Allah. Manusia hanya bias berusaha melaksankan perintah Allah swt.
Berarti kaLau ada orang yang seperti kue yang hanya bercover menarik dan ternyata di dalam nya tidak, berarti ada yg salah dalam diri dan niatnya. kalau hanya di cover,, setelah satu atau dua kali berteman pasti kita mengetahui seperti apa dalamnya kita tidak biss berubah langsung seperti power ranger,, semua ada tahapan dan prosesnya,,,, ^_^
Di Zaman sekarang susah mencari teladan yg baik. Ketika kita hanya berprinsip untuk apa ada nya, ya berarti kita hanya akan menjadi pribadi yang tidak ada apa-apanya. Mengapa kita tdak menemukan teladan yg baik? karena kita kebanyakan mencari teladan sesama kita, padahal Allah sudah menyuruh kita untuk menjadikan NabI Muhammad sebagai tauladan. Setiap manusia dari lahIr sudah tertanam sifat baik dan buruk, jadi kita sebagai makhluk yang lemah hanya bisa memetik nilai yg baik untuk kita ambil dan yg buruk kita buang.
Writer: AINUL AMANI